Monday, 26 November 2007

Nikmatnya Bebek

Postingan kali ini cukup berkaitan dengan bahasa, walaupun sebenarnya ini sebuah lelucon. Saya mendapatkan lelucon ini pertama kali dari salah seorang mahasiswa saya.

"Apa yang enak dari Bebek?", tanyanya suatu hari.

Kami semua di lab mencoba untuk memberikan jawaban.

"Bebek enak kalo digoreng."

"Yang enak dari bebek bulunya. Bisa buat korek kuping."

Berbagai jawaban lain dilontarkan, tapi tak ada satu pun yang berhasil.

Akhirnya, keluarlah jawaban yang benar.

"Yang enak dari Bebek adalah huruf 'B'-nya."

Kami pun terheran-heran. Huruf B? Apa kaitannya huruf B dengan kenikmatan bebek?

Akhirnya mahasiswa saya melengkapi penjelasannya, "Coba huruf 'B' dihapus dari tulisan Bebek. Jadinya kan nggak enak."

Saturday, 24 November 2007

True Relationship (a poem)

I got this from one of mailing list I subscribed. If you have any information about the original creator of this poem, please let me know. I put it here to share it with the world.

cheers,



Share with you a meaningful poem 'True Relationship"


Sweet words are easy to say
Sweet things are easy to buy
But sweet people are difficult to find

Life ends when U stop dreaming
Hope ends when U stop believing
Love ends when U stop caring
Friendship ends when U stop sharing
So share this with whom ever U consider a friend

To love without condition
To talk without intention
To give without reason
And to care without expectation
Is the heart of a true relationship

Wednesday, 21 November 2007

Mana yang Bener?

What do I do at my spare time?

atau

What do I do in my spare time?

Monday, 22 October 2007

Salah ucap: China, Cina, Caina?

Bahasa Indonesia, menurut saya, adalah salah satu bahasa di dunia yang sangat mudah dipengaruhi oleh bahasa media. Maksud saya dengan bahasa media adalah ragam bahasa yang digunakan untuk menyampaikan kabar berita di media massa, baik itu televisi, radio, koran, tabloid, atau majalah.

Salah satu contoh pengaruh yang dialami bahasa Indonesia adalah pengucapan beberapa kata yang tidak mengikuti kaidah pengucapan bahasa Indonesia yang berlaku.

Contoh pertama saya ambil dari judul artikel ini. Negeri Cina dalam bahasa Indonesia ditulis dengan empat huruf C, I, N, dan A. Tapi entah sejak kapan, berbagai media massa tulis menambahkan huruf H setelah huruf C, dan kemudian, reporter televisi ikut-ikutan mengubah pengucapannya menjadi [caina].

Setahu saya, pengucapan ini dipengaruhi oleh pengucapan dalam bahasa Inggris untuk kata "chinese". Kok tiba-tiba saja kita kehilangan kepercayaan diri untuk mengucapkan kata "cina" seperti apa adanya yang sesuai dengan lidah bangsa Indonesia. Kenapa kok kita merasa lebih keren, lebih cool, kalau kita mengikuti pengucapan bahasa Inggris.

Tuesday, 24 July 2007

perlahan.. tapi pasti..

Kadang dia merasa sulit sekali berkonsentrasi.. setiap kali dia mulai membaca buku pelajaran, dia mulai dengan rasa senang dan minat untuk mengetahui isi buku. Tapi setelah waktu berlalu dua atau tiga halaman, konsentrasinya mulai buyar. Entah bagaimana kata-kata yang dia baca dan pahami mengingatkannya akan banyak hal yang harus dia kerjakan.

Walau demikian, dia selalu berusaha untuk mempertahankan konsentrasinya. Sedapat mungkin.. selama dia bisa..

Monday, 16 July 2007

My Favourite Place...

Sore hari.. duduk di pinggiran pagar, melihat orang dan kendaraan yang lalu lalang di jalanan, sambil menikmati sisa bekal hari ini. Menikmati saat-saat ketika matahari perlahan-lahan mulai turun di ufuk barat.. setelah lelah bekerja seharian..

Tuesday, 19 June 2007

You've Got A Friend (Carole King)

When you're down in troubles
And you need some love and care
And nothing, nothing is going right
Close your eyes and think of me
And soon i will be there
To brighten up even your darkest night
You just call out my name

And you know wherever I am
I'll come running to see you again
Winter, spring, summer or fall
All you got to do is call
And I'll be there
Yes I will

You've got a friend
If the sky above you
Grows dark and full of clouds
And that old north wind begins to blow
Keep your head together
And call my name out loud
Soon you'll hear me knocking at your door
You just call out my name

And you know wherever I am
I'll come running to see you again
Winter, spring, summer or fall
All you have to do is call
And I'll be there

Ain't it good to know that you've got a friend
When people can be so cold
They'll hurt you and desert you
And take your soul if you let them
Oh, but don't you let them
You just call out my name

And you know wherever I am
I'll come running to see you again
Winter, spring, summer or fall
All you have to do is call
And I'll be there
You've got a friend

Monday, 23 April 2007

Nasib Pekerja Urban

Dan tiba-tiba aku menyadari kalau aku bisa tidur lebih nyenyak di bangku bis daripada di kasur di kamarku.

Sunday, 25 March 2007

Pelajaran dari Seorang Teman

Minggu, 7 safar 1428

Di kantor, ada beberapa teman yang punya sifat suka mementingkan diri sendiri. Kemarin aku diminta untuk menjadi ketua pengurus kepanitiaan. Salah seorang temanku bersilat lidah agar dia tidak masuk di dalam kepanitiaan.

Teman yang satu ini memang suka mementingkan diri sendiri. Kalau soal uang, dia jadi nomor satu. Tapi kalau bicara tanggung jawab, dia tak mau maju. Dengan berbagai kilah dan alasan, dia berusaha agar orang lain yang maju di depan. Dia cukup ikut di belakang. Walau pun belum pernah terjadi, seandainya ada hal yang merugikan bagi kepanitiaan, temanku ini bakalan lari tunggang langgang cari selamat. Biar ketua panitia yang menanggung masalah.

Sekilas, sifat temanku ini memang tidak enak, terutama buatku. Tapi kuambil saja manfaatnya. Suatu saat nanti aku harus menghadapi resiko yang dihadapi keluargaku. Aku harus berani maju membela istri dan anak-anakku. Persiapan mental seperti ini kuyakin tak didapat olehnya. Dia terbiasa melepas tanggung jawab daripada maju pantang menyerah menghadapi resiko terburuk yang mungkin muncul.

Semoga Allah memberiku bimbingan selalu ketika resiko terburuk itu harus kuhadapi. Semoga Allah memberi pendamping di sisiku, seseorang yang mampu memberikan dukungan moril menghadapi konsekuensi yang muncul sebagai akibat pilihanku mengambil resiko.

Saturday, 24 March 2007

Aku Bukan Pilihan - Iwan Fals

Kini ku mengungkap tanya
Siapakah dirinya
Yang mengaku kekasihmu itu
Aku tak bisa memahami

Ketika malam tiba
Kurela kau berada
Dengan siapa kau melewatinya
Aku tak bisa memahami

* Aku lelaki tak mungkin
Menerimamu bila ternyata kau mendua
Membuatku terluka

Tinggalkan saja diriku
Yang tak mungkin menunggu
Jangan pernah memilih
Aku bukan pilihan

Slalu terungkap tanya
Benarkah kini dia
Wanita yang kukenal hatinya
Aku tak bisa memahami

Tak perlu kau memilihku
Aku lelaki.. bukan tuk dipilih

Tuesday, 6 March 2007

different world

what if there is a living species that can see through solid walls? For them, solid walls are just like transparent glass.

Saturday, 24 February 2007

Indo Translator

Situs IndoTranslator menyediakan perangkat lunak untuk penterjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Saya belum bisa memberikan komentar, karena proses download-nya cukup rumit dan berbelit-belit. Namun bagi yang ingin mencoba, silakan klik judul artikel ini.

Friday, 23 February 2007

all alone

Kadang aku ngerasa begitu kesepian
Nggak ada temen ngomong
Ngomong apa aja

Di saat aku butuh temen
Di saat aku ngerasa cemas
Di saat aku ngerasa takut kehilangan

Hanya Allah yang kujadiin tempat berserah diri
Tempat di mana aku bisa mencurahkan kekhawatiran
dan kecemasan yang kurasain di dalam hati

Wednesday, 7 February 2007

Anagram

Blog Spot?

or Blog Post?

Glob?

Stop Post?

Glob Blog?

Stop Blog?

Wednesday, 11 October 2006

Monday, 28 August 2006

Perihal Istilah Baku Tenologi Informasi

(About Information Technology Standard Term)

Sebagai sebuah bangsa, Indonesia banyak dikenal sebagai bangsa yang multi kultur, multi budaya, dan multi-multi lainnya. Secara alamiah, bangsa Indonesia sudah dihuni oleh suku-suku bangsa yang beraneka jumlah dan ragamnya. Namun, di samping itu, bangsa Indonesia juga tinggal di sebuah negeri yang memiliki posisi strategis geografis berada di semacam `perempatan' lalu lintas dunia. Posisi ini ikut berperan dalam memultikulturkan bangsa Indonesia dengan berbagai pertemuan dengan kultur, budaya, dan bahasa bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.

Hal ini bisa dibuktikan dengan kekayaan kosa kata Bahasa Indonesia yang merupakan hasil pemikiran pengguna bahasa itu sendiri. Bahasa Indonesia kaya dengan kosa kata yang berasal dari bahasa-bahasa daerah, utamanya bahasa Melayu dan Jawa (contoh: Induk semang, Inang, Lengser, Apik). Namun, bahasa Indonesia juga kaya dengan kosa kata serapan dari berbagai bangsa di dunia ini.

Sebutlah contoh `Boneka', sebuah kata yang diambil dari bahasa Portugis. Contoh lain bisa disebut `Tuan' dan `Nyonya', yang diambil dari bahasa Cina. Beberapa contoh lain lagi bisa disebutkan di sini jika anda mau. Namun bagaimana pun bahasa Inggris lah yang punya pengaruh cukup besar, terutama jika kita lihat dari pengaruh globalisasi budaya dan teknologi, khususnya teknologi informasi.

Sebagaimana kita ketahui, perkembangan bidang ilmu Teknologi Informasi (Information Technology) bermula dan berkembang di benua Eropa dan Amerika, yang nota bene (coba tebak, dari bahasa mana kosa kata `nota bene' ini?) menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Karenanya, bukanlah hal yang aneh jika kemudian dalam bahasa sehari-hari kita sering mendengar ucapan yang tercampur baur antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.

``Eh..lu udah baca e-mail gue belon?''

``Man.. ayo dong ente ikutan conference ama temen-temen''

``Sambil nunggu jalanan sepi, ntar pulang kantor gue mo download mp3 dulu ah..''

Dalam bahasa sehari-hari tentu saja ungkapan campur baur seperti itu tak dapat dihindari dan dikendalikan. Penggunaan kosa kata adalah merupakan ekspresi dasar manusia, sama seperti pengungkapan perasaan dalam bentuk musik atau lukisan. Dalam penggunaan bahasa baku, upaya menterjemahkan istilah-istilah semacam tersebut di atas ke dalam bahasa Indonesia sudah mulai sejak beberapa tahun terakhir. Salah satu contoh perintis ke arah pembakuan istilah adalah yang dilakukan oleh Rahmat M. Samik-Ibrahim, salah seorang staf pengajar di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Daftar istilah yang diusulkan untuk dibakukan terjemahan bahasa Indonesianya, dapat ditengok di sini.

Upaya standardisasi semacam ini perlu dihargai dan disebarluaskan kepada khalayak pengguna teknologi informasi, agar kita sebagai sebuah bangsa dapat memiliki kepercayaan diri menggunakan bahasa milik bangsa sendiri, Bahasa Indonesia. Melalui pembakuan terjemahan istilah, kita dapat mengatakan, ``Anda boleh mengunduh artikel ini untuk anda cetak''. Tanpa pembakuan, anda akan mengatakan, ``Anda boleh men-download artikel ini untuk anda print''.

Sebagai penutup, bisa saya sampaikan sebuah hal menarik yang masih berkaitan dengan Bahasa Indonesia dan patut diketahui oleh khalayak luas. Ketika saya menulis artikel ini, saya menggunakan perangkat pencari Google. Ketika saya memasukkan ``Bahasa Indonesia'' ke dalam kotak pencarian, salah satu tautan (link) yang diberikan oleh Google adalah Kamus Elektronik Bahasa Indonesia, yang disusun oleh tim peneliti MMTS (Multilingual Machine Translation System) di BPPT. Salah satu manfaat yang bisa diambil dari perangkat online (sampai dengan artikel ini ditulis pertama kali, entri online belum ada padanan kata bakunya) ini adalah kita bisa memeriksa ejaan baku bahasa Indonesia. Silakan anda coba dengan menjawab pertanyaan berikut ini:

Mana yang benar:
1. Kualitas atau Kwalitas?
2. Algoritme atau Algoritma?

- Draft v.0 20060828

Thursday, 10 August 2006

Rencanakanlah kegiatan untu hari esok. Mulailah menjalankan rencanamu dengan meminta ijin kepada penguasa alam semesta, karena hanya Dia-lah yang menguasai jiwamu sepanjang hari yang akan kau lalui.

Jika rencanamu berjalan dengan baik, Alhamdulillah, berterimakasihlah kepadaNya karena dengan Kasih dan Sayangnya, dia mengijinkanmu menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Bersyukurlah dengan memperbanyak ibadah. Seringan-ringan ibadah adalah tersenyum kepada sesama saudaramu.

Jika ada hal-hal lain yang menghalangi rencanamu, maka bersabarlah. InsyaAllah Allah memberikan rahmat pahalaNya untukmu. InsyaAllah Allah berkenan menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahanmu.

Thursday, 6 July 2006

Sapu Lidi Udin

Malam semakin larut ketika aku mulai melangkahkan kaki di sepanjang jalan berdebu kota ini. Aku memutuskan pulang berjalan kaki. Entah apakah kakiku masih kuat menghantarkan tubuhku berjalan sejauh itu. Kuputuskan berjalan kaki pulang untuk mencoba melupakan apa yang telah kualami siang tadi. Harapanku kegiatan fisik dapat mengurai pikiranku yang kusut.

Aku berjalan secepat yang aku bisa. Sekitar tiga perempat jam kemudian aku mulai merasa lelah. Kakiku mulai terasa berdenyut-denyut minta istirahat. Kuperlambat ayunan langkahku, menuju tempat terdekat di mana aku bisa duduk memberi kesempatan kakiku untuk beristirahat.

Aku pilih sebuah halte bus di dekat gang menuju sebuah pemukiman kumuh. Letaknya agak memojok menyendiri, beberapa meter dari sebuah warung rokok. Sengaja kupilih halte ini agar aku dapat beristirahat sambil menenangkan pikiran dan menghindari gangguan orang yang lalu lalang. Syukurlah, halte pilihanku ini tak seramai halte-halte lain.

Kubuka bekal sebuah botol air yang sudah kupersiapkan dari kantor. Kunikmati hembusan angin malam berdebu mendinginkan tubuhku yang sudah sedikit berpeluh. Segar kurasakan tiupan angin setiap kali ada kendaraan yang lewat melintas. Bus besar dan kecil, kosong atau sarat penumpang.. kendaraan pribadi, mewah atau murah.. dan beberapa kali melintas kendaraan bermotor roda dua.

Pikiranku mulai terasa lebih tenang. Tubuhku yang terasa lelah mulai kembali mendapatkan kekuatannya setelah kuberi minum beberapa teguk air. Aku baru akan berdiri melanjutkan perjalanan ketika sebuah bus yang tampak kosong mendekat ke arah halte. Di pintu bus kulihat seorang anak kecil tanpa alas kaki memegang sebuah sapu lidi tampak hendak turun.

Ketika anak itu melompat turun dari bus, semakin jelas terlihat coreng-moreng debu jalanan di wajah dan kakinya. Tak berbeda jauh dibandingkan kaos yang dikenakannya. Entah sudah berapa lama kaos itu tak bersentuhan dengan air dan deterjen, gambar logo salah satu klub sepakbola Eropa yang menghiasi kaos itu tampak mulai memudar. Celana pendek yang dikenakannya jauh lebih kotor lagi, tak jelas apa warna aslinya. Aku merasa beruntung masih bisa duduk di kursi halte berlapis keramik murahan tanpa mengotori celana panjangku. Anak ini mungkin lebih sering duduk di trotoar pinggir jalan. Tidak aneh kalau celananya begitu kotor.

Aku mengurungkan niatku melanjutkan perjalanan. Sapu lidi kecil yang dipegang anak tadi membuatku penasaran. Biasanya anak jalanan seumuran dia lebih memilih mengamen dengan alat musik sangat sederhana terbuat dari beberapa bekas tutup botol yang dipakukan pada sepotong kayu. Kuperhatikan wajah dan tubuh kecilnya yang kusam berdebu. Kutaksir umurnya baru sekitar lima atau enam tahun.

Begitu turun dari bus, tanpa mempedulikan kotor atau tidak dia langsung duduk di samping halte, beberapa jengkal di samping tempatku duduk. Aroma badannya yang berbau asam dapat kurasakan menggelitik penciumanku. Seperti tak perduli dengan keberadaanku, dia mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan dan beberapa keping uang logam dari saku celananya.

Aku semakin penasaran. Dari mana dia bisa mendapatkan uang recehan itu? Mungkin uang itu didapatkannya dari mengamen bersama temannya. Namun sedari tadi ketika dia masih ada dalam bus, tak terlihat anak kecil lain bersamanya. Mungkin alat musik ecek-ecek dibawa oleh temannya. Atau mungkin teman anak ini sudah turun lebih dulu di halte sebelumnya.

Aku belum sempat membuka mulut menyapa anak ini untuk menjawab rasa penasaranku, ketika dia sudah lebih dulu bersuara. Dia lebih berbicara kepada dirinya sendiri daripada berbicara kepada orang lain. Dia tampak masih tak perduli dengan keberadaanku. Mungkin dia terlalu asyik dengan pikirannya sendiri sampai-sampai tak ambil pusing dengan kejadian di sekelilingnya. Dia asyik dengan kesibukannya, berbicara kepada dirinya sendiri. Bahkan tak perduli kemungkinan adanya tukang palak di halte ini yang mungkin bisa merampas uang receh yang tak seberapa besar nilainya itu. Dia bergumam, namun apa yang dikatakannya dapat kudengar dengan jelas. Bising kendaraan yang lalu lalang semakin berkurang dengan semakin larutnya malam. Warung rokok di dekat halte pun mulai tutup dan ditinggalkan oleh pemiliknya.

``Alhamdulillah.. Udin dapet rejeki hari ini''. Tangan si Udin mengelompokkan uang yang didapatnya dalam nilai-nilai pecahan yang sama. ``Mudah-mudahan Emak bisa ngedapetin lidi yang banyak hari ini..
biar sapu Udin makin gede..''

Rupanya ibu si Udin juga mencari nafkah, entah dengan cara apa, setidaknya dia mencoba mencarikan sapu lidi baru atau bekas yang lebih besar buat anaknya. Namun aku kagum, anak sekecil Udin sudah mampu mengucap syukur walau hanya mendapatkan rejeki yang nilainya tak seberapa.

``Kalo sapu Udin gede, Udin bisa nyapu lebih banyak.. Udin bisa dapet uang lebih banyak.. Kalo uang Udin udah banyak, Udin mau beliin rumah buat Emak.''

Terenyuh hatiku mendengar kata-kata si Udin, anak jalanan yang mencari uang dengan menjual jasa menyapu. Entah kapan impiannya akan dapat terwujud, bisa membelikan rumah buat Emaknya. Ketika tabungan uangnya semakin bertambah, entah berapa banyak kenaikan harga rumah di negeri ini, membuat impian Udin dan orang-orang yang senasib dengannya semakin jauh tertinggal di belakang.

Aku berdiri, sambil tetap memperhatikan tingkah laku si Udin kecil. Tampaknya hempasan kehidupan yang dirasakannya jauh lebih besar daripada apa yang telah kualami. Kerasnya kehidupan membuat Udin tetap tak peduli dengan keberadaanku di sampingnya.

Kurogoh saku celanaku, kugenggam beberapa helai uang ribuan yang semustinya kugunakan untuk ongkos pulang ke rumah. Ada ragu kurasakan, apakah kuberikan semua uang yang ada dalam saku celanaku buat Udin. Badanku yang letih memaksa pikiranku untuk mengurungkan niat memberi sedekah buat Udin. Tapi hatiku berkata lain. Udin dan Emaknya, dan mungkin saudara-saudara Udin yang lain, lebih membutuhkan uang yang kugenggam daripada aku. Biarlah aku pulang malam ini dengan melanjutkan jalan kaki.

Perlahan-lahan kudekati si Udin kecil, kuberikan uang kepadanya. ``Dik..ini sedikit uang buat adik''

Udin baru menyadari kalau ada orang di dekatnya. Dia tampak terkejut. Udin tak berbicara sepatah kata pun, dia hanya terdiam, berkali-kali memandangi wajahku dan uang yang ada di telapak tanganku. Akhirnya kuraih salah satu tangannya dan kugenggamkan uang pemberianku di tangannya yang hitam dan kotor.

``Ditabung ya..berikan buat Emak di rumah'', kataku sambil perlahan berdiri.

Aku mulai melangkah pergi. Belum terlalu jauh, terdengar suara Udin berteriak di belakangku, ``Terima kasih ya Om! Terima kasih banyak!''

Aku balikkan badan ke halte. Kulihat Udin berdiri sambil memegang tumpukan uang di depan dadanya. Kulihat matanya tampak berkaca-kaca, dengan sedikit sunggingan senyum di wajahnya.

Aku tersenyum, kulambaikan tangan sebagai tanda berpisah. Air mata pun meleleh mengalir di kedua pipi Udin, menambah lagi coreng-moreng di mukanya. Kuucapkan salam. Udin tak kuasa menahan tangis haru. Dengan terbata-bata dibalasnya salamku, ``Wa.. alaikum.. salam.. wa rah..matullah..''

Udin kecil pun menjejalkan uang recehan yang digenggamnya ke dalam saku celana, kemudian dia ambil sapu lidi kecilnya dan sambil tetap menangis berlari ke arah gang gelap di belakang halte, mengarah ke perkampungan kumuh di belakangnya. Kudengar tangis haru Udin semakin menghilang di gelapnya malam.

``Ah.. Udin.. semoga Allah mengabulkan keinginanmu..'', kataku dalam hati. Tambahan rejeki tak seberapa dari orang semacam aku sudah membuatnya girang bahkan terharu.

Aku pun melanjutkan perjalanan pulang. Masih jauh jalan yang harus kutempuh untuk sampai ke rumah dengan berjalan kaki. Aku mulai memikirkan kata-kata apa yang kusampaikan kepada istriku tengah malam nanti, mengabarkan bahwa suaminya ini diPHK tadi siang.

Jakarta, 10 Jumadil Akhir 1427

Tuesday, 2 May 2006

Hari Pendidikan Nasional 2006

Kangen juga rasanya nulis-nulis di belakang meja kayu. Tangan kanan bergerak lincah memandu alat tulis menorehkan angka dan kata. Tangan kiri ditekuk di atas meja, di antara dada dan pinggiran meja, agar dada tidak sakit terkena pinggiran meja kayu.

Mendengarkan cerita bapak dan ibu guru, menyimak soal yang diberikan, berteriak gembira ketika lonceng tanda istirahat berbunyi nyaring. Bermain bersama kawan-kawan, bercerita tentang film serial yang diputar di TVRI malam hari sebelumnya.

Bergiliran mengantri meminjam buku di perpustakaan. Membayangkan asyiknya mengelana berkeliling nusantara dan dunia bersama tokoh-tokoh dalam buku cerita yang dipinjam.

Selamat hari Pendidikan Nasional. Terima kasih banyak buat ibu dan bapak guru. Jasamu sungguh tak ternilai.

Wednesday, 1 March 2006

Aryanto Surtiadie - 1000 butir kelereng

Renungan tentang pendeknya umur manusia di dunia, dan bagaimana agar tidak terlalu 'gila' dengan pekerjaan dan urusan di luar rumah sendiri.

Silakan baca di link berikut ini

Aryanto Surtiadie - 1000 butir kelereng

Salam untuk keluarga anda tersayang.