Showing posts with label opinion. Show all posts
Showing posts with label opinion. Show all posts

Thursday, 26 December 2013

Pendengar yang Baik

"Outside of a dog, a book is man's best friend. Inside of a dog it's
too dark to read."

-- Groucho Marx, The Essential Groucho: Writings For By And About Groucho Marx
Selain buku, dan hewan peliharaan seperti anjing, ada teman terbaik bagi manusia. Teman yang rela untuk jadi pendengar yang baik.

Thursday, 29 October 2009

Sinetron Antah Berantah

Tersebutlah sebuah negeri, di mana sinetron tak bermutu terus diputar demi mengejar rating. Cerita yang seharusnya sudah berakhir dipaksakan berlanjut dengan pemunculan tokoh-tokoh baru, alur cerita yang dipaksakan dan tidak masuk akal. Apapun diupayakan agar iklan terus datang mengalir, mendatangkan rejeki bagi mereka yang terlibat di dalam produksi sinetron. Utamanya para artis yang entah dari mana datangnya, siapa riwayatnya, asal punya nama berbau-bau Western atau Indo, wajah cantik dan tampan, jadilah dia kecipratan rejeki iklan yang menumpang tingkat rating tinggi dari sinetron yang bersangkutan.

Mungkin kondisi yang sama terjadi pada kehidupan nyata negeri itu, ketika skenario tak masuk akal dan dipaksakan dibuat, untuk memangkas kekuasaan lembaga pamungkas yang punya potensi memangkas rejeki para koruptor tengik yang entah dari mana datangnya, siapa riwayatnya, asal punya kuasa dan dana, membungkam mulut para hakim dan polisi yang kelaparan karena gaji bulanan mereka tak cukup memberi makan anak istri.

Menulis kekesalan di blog pun terancam penangkapan, dengan alasan yang dicari-cari, dengan alasan mencemarkan nama baik.

Mau dibawa ke mana negeri itu?

Monday, 17 August 2009

Kemerdekaan Sebuah Amplop

Cak Luri mangut-mangut kesal karena harus menunggu setidaknya tiga jam lagi. Dia kesal karena tak ada yang bisa dia lakukan. Membuang waktu cuma duduk-duduk saja membuatnya bosan. Ngobrol ngalor-ngidul dengan sesama rekan kerjanya juga tak menarik minatnya, sama-sama membuat bosan. Malas cak Luri mendengar obrolan itu-itu saja setiap kali nimbrung di acara tujuh belasan seperti hari ini.

Cak Luri dan kawan-kawannya masih harus menunggu beberapa jam sampai amplop dibagikan. Untuk itu panitia acara sudah mempersiapkan beberapa kegiatan, yang lagi-lagi, membuat cak Luri merasa bosan. Dari tahun ke tahun, tidak banyak perubahan. Kalo nggak lomba makan kerupuk, ya lomba balap karung. Kadang yang agak mewah sedikit ada parade baju daerah, yang kadang disewa dengan biaya yang tidak murah. Cak Luri tahu itu, karena beberapa tahun belakangan bisnis penyewaan baju daerah cukup banyak diminati beberapa orang, utamanya ibu-ibu rumah tangga.

Kalo panitianya kreatif, kadang ada juga lomba karaoke. Atau lomba masakan inovatif, seperti yang tahun ini diadakan di kantor cak Luri. Lomba menu makanan berbahan dasar singkong, begitu judulnya. Tapi, cak Luri juga tak berharap banyak dari lomba kreatif seperti itu. Paling banter kepala kantor cuma bilang lomba semacam ini bagus. Tindak lanjutnya dipertanyakan. Padahal kalau makanan-makanan berbahan dasar singkong itu dikomersialkan secara massal, bukan hanya bisa bikin rakyat punya lapangan pekerjaan, tapi juga bisa bikin negeri cak Luri merdeka dari ketergantungan pangan dari negara lain.

Merdeka secara ekonomis, merdeka karena rakyat bisa bekerja di negeri sendiri tanpa harus susah payah digebuki di negeri orang. Juga merdeka karena kita bisa makan di negeri sendiri, makan makanan berbahan dasar singkong.

Omong-omong soal kemerdekaan, cak Luri jadi mikir, "Kok aku jadi orang terjajah begini ya? Kenapa aku harus rela nungguin amplop dibagiin tiga jam lagi? Kenapa kepulanganku ke rumah harus tergantung dari sebuah amplop? Sebagai orang merdeka mustinya aku bisa bebas mau pulang kapan saja."

Padahal tetangga-tetangga cak Luri sudah menunggu di rumah, menunggunya untuk meramaikan acara lomba di kompleks rumah. Ya tapi itu tadi.. lombanya ya masih belum banyak berubah dari sejak cak Luri masih kecil dulu. "Kenapa ya nggak ada yang bikin lomba bikin program komputer? Atau bikin lomba penulisan ilmiah? Atau lomba bikin situs web? Khan canggih tuh.", pikir cak Luri dalam hati.

Untungnya ini cuma ngedumelnya cak Luri di dalam hati. Kalo sampe uneg-uneg ini dia tulis di blog atau e-mail, mungkin cak Luri malah bisa di-prita-kan sama kantornya. Kalaupun itu terjadi, paling-paling teman-teman kantor cak Luri akan bikin dukungan untuknya di facebook.

Isi dukungannya bukan "Bebaskan cak Luri!", tapi "Merdekakan cak Luri!"

Friday, 3 April 2009

Cinta Rupiah

Sistem moneter di Indonesia menurut saya sungguh aneh. Tidak ada konsistensi antara keinginan untuk membuat mata uang Rupiah menjadi kuat dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Sering kita mendengar keluhan, atau kita sendiri yang mengeluh, betapa mahalnya harga-harga berbagai macam barang sekarang.

Saya masih ingat waktu saya masih SMP dulu, saya berangkat ke sekolah cukup berbekal uang 100 rupiah pulang pergi. Untuk penumpang umum, ongkos angkot cukup 150 rupiah saja. Waktu SD, saya bisa jajan satu mangkok bubur ayam dengan uang 50 rupiah. Biasanya orang tua membekali saya dengan uang jajan paling banyak 100 rupiah.

Jaman sekarang, selain harga-harga yang naik sekian kali lipat, ada kejanggalan juga. Anda tentunya pernah kan membeli sesuatu di mini market atau pasar swalayan? Dari sekian kali berbelanja, berapa kali di antaranya harga yang harus anda bayarkan jumlahnya bulat? Misalnya 2000 rupiah, 1300 rupiah, atau 600 rupiah. Saya sendiri jarang mendapatkan harga bulat seperti itu. Memang ada pasar swalayan besar yang menggunakan sistem pembulatan terhadap total harga barang yang kita beli.

Itu soal harga yang harus kita bayar. Lebih menyebalkan lagi kalau kemudian kita mengeluarkan uang dan kemudian seharusnya mendapatkan uang kembalian. Berapa kali anda mendapatkan uang kembalian dalam jumlah yang utuh? Atau berapa kali anda mendapatkan uang kembalian dalam bentuk bukan uang?

Misalkan saya membeli sejumlah barang, dan total harganya 1950 rupiah. Pecahan terkecil berapa yang sekarang beredar di masyarakat? Kadang menemukan kepingan 100 rupiah aja sudah cukup susah, apalagi 50 rupiah. Malah kadang-kadang saya lihat kepingan perak 100 rupiah atau 50 rupiah tergeletak begitu saja di jalanan. Tak ada yang peduli untuk mengambilnya. Seolah harga 50 rupiah sudah tidak ada artinya, tak bisa bikin kita kaya.

Menurut saya hal semacam ini membuat kita tidak menghargai mata uang kita sendiri. Pemerintah seharusnya juga konsisten dengan menerbitkan kepingan uang yang dibutuhkan masyarakat. Dalam kenyataannya sering kita harus membayar dalam jumlah yang melibatkan pecahan 1 rupiah. Tapi pecahan terkecil yang beredar sekarang, kalau pun bisa ditemukan, hanya 50 rupiah. Di pihak lain, seharusnya juga para pengusaha dan penjual menetapkan harga yang sesuai dengan kenyataan pecahan terkecil yang beredar. Jangan bikin harga aneh-aneh, misalnya 10.999 rupiah. Kalau saya bayar dengan uang 11.000 rupiah, apa saya bisa mendapatkan uang kembali yang hanya 1 rupiah?

Inilah anehnya sistem keuangan di Indonesia. Di media elektronik sering diputar iklan layanan masyarakat yang menghimbau rakyat untuk 3D. Tapi toh ini hanya berlaku untuk uang kertas. Bagaimana dengan kepingan logam?

Negeri ini memang suka aneh. Pengen maju, tapi perilakunya nggak mau berubah ke arah kemajuan. Pengen rakyat sejahtera secara finansial, tapi pemerintah dan pengusahanya juga nggak mau melakukan sesuatu untuk membuat 1 rupiah itu besar artinya.

Kalau kita sudah berpikir uang 50 rupiah yang tergeletak di jalanan seolah tak bisa membuat kita kaya, bagaimana kalau kita punya uang dalam jumlah yang jauh lebih besar?

Saturday, 29 March 2008

Kecemburuan Ayat-Ayat Cinta

Dunia perfilman di Indonesia mulai menggiat beberapa tahun belakangan ini. Beberapa tahun yang lalu muncul judul film Ada Apa Dengan Cinta. Dan tahun ini peminat film di Indonesia dimanjakan dengan cerita yang disuguhkan lewat film Ayat-Ayat Cinta. Dari AADC ke AAC. Entah ke mana huruf D menghilang, dan apakah film sukses berikutnya akan memiliki judul dengan inisial AC, entahlah.
Banyak hal menarik tentang AAC. Jusuf Kalla, sang wakil Presiden pun ikut nonton di Plaza Senayan, Jakarta, dan kabarnya SBY sang Presiden pun tersiar kabarnya akan ikut nonton. Entah di mana. (mungkin di cinema yang berawalan dengan huruf D).

Dari sekian banyak hal, salah satu yang menjadikan film ini fenomenal adalah aspek poligami yang bagi rakyat Indonesia merupakan isu yang terbilang cukup sensitif. Bagi para lelaki baik yang sudah maupun belum beristri, poligami tampaknya membagi mereka menjadi dua kelompok. Ada yang setuju dan ada yang tidak. Bagi para wanita jauh lebih banyak yang tidak setuju. Mereka tidak ingin cintanya dibagi dua oleh sang suami.

Bagi saya, ketidaksetujuan ini cukup wajar. Karena toh bagaimana pun kita ini manusia. Tak ingin milik kita yang berharga dibagi dengan orang lain. Banyak contoh di sekitar kita yang bisa diambil menunjukkan contoh semacam ini. Orang tak ingin lahan rumahnya dibagi buat orang lain, buktinya banyak rumah berpagar tinggi-tinggi, tak boleh orang lain sekedar melihat indahnya pekarangan rumah, apalagi menginjak halaman. Banyak orang tak rela uang korupsinya dibagi dengan orang lain, sampai lari ke negeri orang.

Itu baru orang. Apalagi Tuhan. Demikian pencemburunya Tuhan hingga Dia tidak mau mengampuni orang yang menyekutukan Dia dengan sesuatu yang lain. Dia yang telah memberi kasih sayang begitu besar kepada hambaNya, diberinya ruh kehidupan, diberikanNya kesempatan menikmati indahnya hidup, bertemu keindahan alam, menikmati sedapnya sambal dan sayur asem, merasakan kepuasan memahami rahasia alam dengan meraih gelar sarjana, magister, dan doktor. DiijinkanNya jantung terus berdetak memompa darah di sekujur tubuh walaupun kita sedang asik masyuk menikmati keindahan hidup, diijinkanNya paru-paru terus memompa udara segar ke dalam jaringan tubuh walaupun kita sedang lalai melupakan semua karunia dan kasih sayangNya.

Ketika semua nikmat itu tidak disyukuri, ketika kemudian manusia justru berterima kasih kepada zat lain yang tidak patut disembah dan diagungkan, betapa sakit rasa yang Dia alami. Ketika kita memberikan sejumput nafkah kita kepada orang dan orang itu berterima kasih kepada orang lain, kita sudah merasakan sakit hati yang luar biasa. "Tak tahu terima kasih!", begitu kita berpikir. Apalagi Tuhan.

Cinta seorang suami kepada seorang istri pun akan dirasakan dengan cara yang sama jika sang suami memberikan cintanya kepada wanita lain. Jerih payah yang telah dicurahkan istri, kasih sayang yang dia berikan, kata-kata rayuan dan cubitan mesra yang diberikan istri demi meraih perhatian suami ternyata tidak membuat suami terpikat. Suami malah terpikat untuk memperistri wanita lain. Alangkah sakit rasa yang melekat di hati sang istri.

Lalu mengapa dalam Islam diperbolehkan bagi seorang laki-laki untuk memperistri hingga empat orang? Dalam memahami firman Tuhan, film Ayat-Ayat Cinta memberikan jawabannya dengan cara yang lucu (bagi saya juga sedikit terasa getir). Betapa besar sesungguhnya urusan memperistri lebih dari satu orang pada satu saat. Hanya karena keadaan yang mendesak yang membuat seorang laki-laki harus memperistri wanita lain. Demikianlah sebenarnya keadaan yang terjadi ketika Nabi Muhammad memperistri demikian banyak wanita. Para wanita itu adalah para janda yang ditinggal mati suami mereka yang meninggal dalam peperangan mempertahankan keimanan. Jika para janda itu tidak dinikahi, bagaimana nasib para anak-anak mereka?

Cerita yang hampir sama terjadi di AAC. Fahri terpaksa harus menikahi wanita lain demi nyawa si wanita. Dalam Islam, ada kaidah di mana dalam suatu kondisi kita diharuskan lebih mendahulukan menghindari bencana (mudharat) daripada mengambil manfaat. Fahri pun sebenarnya tak ingin membagi cinta dengan Aisha. Hanya kebesaran hati seorang Aisha yang memaksa Fahri pada akhirnya bersedia menikahi Maria, agar Fahri bisa diselamatkan dari bencana yang bisa membahayakan keluarga Fahri dan Aisha.

Salah satu adegan menarik yang buat saya perlu disimak bagi yang sudah maupun yang belum menonton film ini, yaitu ketika Saiful memberikan nasihatnya kepada Fahri. Dalam poligami yang bisa dilakukan oleh suami adalah berusaha berbuat adil. Karena tidak mungkin bagi manusia berbuat sangat adil. Keadilan yang dilakukan manusia sungguh jauh berbeda dari keadilan Tuhan. Ketika Tuhan merasa cintanya direnggut, karena manusia yang dikasihiNya berterima kasih dan menyembah kepada selain Dia, maka keadilan Tuhan pun akan datang. Tak sudi Dia mengampuni kesyirikan yang dilakukan manusia-manusia semacam itu karena mereka telah membagi cinta yang Dia berikan kepada yang lain.

Monday, 22 October 2007

Salah ucap: China, Cina, Caina?

Bahasa Indonesia, menurut saya, adalah salah satu bahasa di dunia yang sangat mudah dipengaruhi oleh bahasa media. Maksud saya dengan bahasa media adalah ragam bahasa yang digunakan untuk menyampaikan kabar berita di media massa, baik itu televisi, radio, koran, tabloid, atau majalah.

Salah satu contoh pengaruh yang dialami bahasa Indonesia adalah pengucapan beberapa kata yang tidak mengikuti kaidah pengucapan bahasa Indonesia yang berlaku.

Contoh pertama saya ambil dari judul artikel ini. Negeri Cina dalam bahasa Indonesia ditulis dengan empat huruf C, I, N, dan A. Tapi entah sejak kapan, berbagai media massa tulis menambahkan huruf H setelah huruf C, dan kemudian, reporter televisi ikut-ikutan mengubah pengucapannya menjadi [caina].

Setahu saya, pengucapan ini dipengaruhi oleh pengucapan dalam bahasa Inggris untuk kata "chinese". Kok tiba-tiba saja kita kehilangan kepercayaan diri untuk mengucapkan kata "cina" seperti apa adanya yang sesuai dengan lidah bangsa Indonesia. Kenapa kok kita merasa lebih keren, lebih cool, kalau kita mengikuti pengucapan bahasa Inggris.

Tuesday, 2 May 2006

Hari Pendidikan Nasional 2006

Kangen juga rasanya nulis-nulis di belakang meja kayu. Tangan kanan bergerak lincah memandu alat tulis menorehkan angka dan kata. Tangan kiri ditekuk di atas meja, di antara dada dan pinggiran meja, agar dada tidak sakit terkena pinggiran meja kayu.

Mendengarkan cerita bapak dan ibu guru, menyimak soal yang diberikan, berteriak gembira ketika lonceng tanda istirahat berbunyi nyaring. Bermain bersama kawan-kawan, bercerita tentang film serial yang diputar di TVRI malam hari sebelumnya.

Bergiliran mengantri meminjam buku di perpustakaan. Membayangkan asyiknya mengelana berkeliling nusantara dan dunia bersama tokoh-tokoh dalam buku cerita yang dipinjam.

Selamat hari Pendidikan Nasional. Terima kasih banyak buat ibu dan bapak guru. Jasamu sungguh tak ternilai.